Review : The Mortal Instruments – City of Heavenly Fire (Book Six)

“I loved you recklessly from the moment I knew you. I never cared about the consequences. I told myself I did, I told myself you wanted me to, and so I tried, but I never did. I wanted you more than I wanted to be good. I wanted you more than I wanted anything, ever.” – Jace Herondale.

Cassandra Clare, City of Heavenly Fire.

city of heavenly fire

Akhirnya aku ngehabisin lima hari buat beresin baca The Mortal Instruments : City of Heavenly Fire. Perasaan aku? Campur aduk. Seneng, pasti. Sedih, banget. Kecewa, mayan.

Mulai dari seneng!

Satu, akhirnya buku ini terbit dalam versi Bahasa Indonesia. Dua, aku bisa kangen-kangenan sama Jace juga Verlac (uhuk!). Tiga, alih bahasanya bagus jadi enak dibaca. Empat, Cassandra Clare berhasil bikin aku jatuh, jatuh, jatuh, jatuh dan jatuh cinta terus sama cerita tentang dunia bawah ini. Lima, Verlac banyak banget muncul di buku ini walau dia keji banget. Enam, Jace x Clary adalah pasangan yang nyaris incest tapi nggak jadi dan malah akan berlabuh ke pelaminan. Tujuh, Izzy akhirnya bisa bilang kalau dia ‘cinta’ sama Simon. Delapan, Alec x Magnus baikan lalalala. Sembilan, buku ini bikin aku pengen beli (dibeliin, lebih tepatnya) series The Infernal Device buat lebih tahu tentang Will Herondale, Tessa Gray, Brother Zachariah aka Jem Carstairs. Sepuluh, terjadilah kedamaian di Alicante, Idris (yang aku yakinin ini cuman sementara, hehehe). Sebelas, Verlac super duper pinter bermain strategis. MUAH! Dua belas, pembatas bukunya unyu sekaliiii~ Tiga belas, geng anak bandel (Jace, Clary, Izzy, Alec dan Simon) kembali berhasil menyelamatkan dunia.

Dan, sedihnya!

Satu, Jordan mati dan menurut aku itu nyebelin. Dua, Verlac (emang pasti) mati dan aku kesel sampai ubun-ubun padahal berharap dia tobat aja, soalnya kan sayang cakep-cakep tapi mati. Tiga, Mark nggak bisa balik lagi kumpul sama adik-adiknya setelah dia terpaksa jadi Pemburuan Liar. Empat, kebanyakan setting lokasinya adalah di NERAKA, dan itu susah banget buat dibayangin. Kenapa nggak di Manhattan aja gitu biar romantis? Hahaha. Lima, SIMON! OH MY GOD, SIMON! Dia harus menyerahkan status vampir immortal plus pengembara siang ke Ayah Magnus beserta segela memori tentang Pemburu Bayangan dan Dunia Bawah. SEDIH! Enam, the book is end!😦😦

Lalu, kecewanya!

Satu doang, fontnya kekecilan. Sebenernya aku nggak keberatan buat bayar lebih mahal asal menggunakan font lebih besar, I mean normal gitu. Emang sih, font yang kecil bikin bukunya lebih tipis dan harga produksi keteken. Tapi, mata aku sakit banget. Dan nggak kuat baca lama-lama, makanya buku ‘setipis’ ini aku bacanya lima hari. Dan! Ternyata alih bahasanya dimiliki oleh Fantasious bukan Ufuk seperti kelima buku sebelumnya. Mas, Mbak editor or layouting.. mata anak bangsa yang baca bisa rusak nih gara-gara font segede rayapnya😦

city of heavenly fire size

Atas City of Heavenly Fire, bawah City of Glass

But, overall buku ini aku rate 4/5 karena cerita dan alih bahasanya yang bagus. Can hardly wait to read The Infernal Device series. Lalalala~

Leave a comment

Filed under Book

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s