Book Review : Somewhere Only We Know by Alexander Thian

photo 2 (5)

Sebelum mereview novel ini, izinin aku untuk cerita sedikit tentang aku dan Alex.

Aku dan Alex nggak ada hubungan apa-apa. Tenang. Ini bukan postingan pengakuan panjang lebar yang lagi heboh ala Uni di blog sebelah itu. Hehehehe. Tapi, kalau mau langsung ke review-nya bisa scroll-scroll ke bawah dikit.

Jadi, aku adalah salah satu dari 500K+ followers Alex di twitter dan satu dari 57K followers instagramnya. Pertama kali nge-follow twitter Alex waktu awal-awal kuliah, ketika sinetron yang Didi adalah pemeran favorit aku tanyang setiap hari di SCTV. Usut punya usut, pencipta kalimat ajaib yang selalu Didi cetuskan di sinetron itu ternyata adalah Alexander Thian, salah satu penulis skenario di sinetron itu. Iseng, aku follow twitternya. Setiap hari, like 24/7 timeline twitter aku diisi oleh Alex. Seperti dia nggak pernah meninggalkan twitterland barang semenit. Tweet Alex selalu bertema dan menarik. Kadang, aku suka dapet gosip terkini dari tweet dia. Hahaha. Well, dia adalah pendongen yang baik.

Aku juga sering main ke blog dia buat baca tips menulis, cerpen-cerpen, dan cerita traveling dia. Aku pernah bilang, kalau blog Alex adalah salah satu blog kesukaan aku, di sini.

Lalu beberapa bulan lalu, aku sering ngedapetin Alex dengan sukarela memberikan bocoran satu dua paragraf dari novel fiksi pertamanya yang sedang ia kerjakan. Bahkan dari secuil teaser itu, aku udah suka banget! Sebelumnya, aku udah baca beberapa tulisan Alex di novel kumpulan cerpen bareng temen-temennya.

Jadi, ketika Alex membombardir timeline twitter dengan rencana pre order novelnya, aku percaya kalau novel ini bakal bagus banget.

Dan hari pre-order pun tiba. Btw, ini adalah pre-order novel pertama aku. Dari zaman dulu, aku gak pernah tertarik buat ikutan yang kayak gini. Dulu, mikirnya toh ntar juga ada di toko buku. Tapi, buat buku Alex ini aku semangat 45 buat ikutan. Entah magic apa yang Alex tebarkan. Hehehe.

Aku nggak pernah tahu, kalau pre-order buku tuh bakal semenegangkan ini. Tepat pukul 00.00 aku langsung klik tombol beli sambil harap-harap cemas. Halaman website langsung error. Dan aku langsung melongo. Refresh. Berhasil. Saat mengisi data selesai, aku tekan tombol beli lagi. Halaman website langsung error. Refresh. Masih error. Refresh belasan kali. Berhasil. Masuk ke step selanjutnya, klik tombol beli. Halaman website error lagi. Refresh aja terus sampe tangan panas dingin dan tremor. Akhirnya sampai di step terakhir, dan aku berhasil! Aku dapetin buku Alex di menit ke-3!

Thanks koneksi wifi di rumah yang sedang sangat bersahabat. Setelah nerima email konfirmasi pembelian, aku langsung transfer biaya buku beserta ongkir. Dan di menit ke-8 aku resmi menjadi pembeli satu dari seribu novel Alex yang berbonus postcards hasil jepretan Alex. I’m so damn lucky!

Aku ngerasa lebih beruntung lagi ketika iseng buka twitter dan Alex sedang sibuk membalasi satu-satu tweet followernya yang rusuh gara-gara websitenya error. Bahkan tiga puluh menit berlalu (kalau nggak salah), Alex mulai membalas tweet followernya yang sedih gara-gara nggak kebagian satu dari seribu bukunya. Aku pengen nangis terharu, pengen bangunin seisi rumah buat pamer kalau aku berhasil menerobos traffic websitenya.

Dua minggu berlalu (21/8), dan tibalah novel berjudul ‘Somewhere Only We Know’ milik Alex di teras rumah. Buru-buru selamatin buku, pasang tripod, ganti baju, setting kamera, dandan dikit. Dan TADAAA!

Aku bikin video pembukaan novel Alex, beserta video reaksinya. Sebenernya pas lagi pre-order bukunya, aku bikin video. Sayangnya malem itu aku males banget pakai kerudung, jadi nggak bisa aku share. Hehehe. Belasan kali aku nonton video pre-ordernya, dan masih bisa ngerasain ketegangan malam itu. Ahzek!

Bisa cek di sini video pembukaan novel ‘Somewhere Only We Know’

-o0o-

Setelah panjang lebar, inilah review novelnya. Aku ngabisin dua hari untuk baca, yang seharusnya bisa beres dalam sehari, tapi kesandung sama project desain yang harus cepet beres. Aku bikin dalam bentuk poin-poin biar mudah ya.

  1. Cover, postcard, sign, nomor buku.

photo 1 (5)photo 3 (1)photo (3)

Nggak bisa bohong ya, beli buku itu emang harus liat covernya. Dan ‘Somewhere Only We Know’ punya cover yang super duper eye-catching. Sebagai anak desain grafis (ahzek), aku menilai cover bukunya punya komposisi dan warna yang bagus. Terlebih sosok cowok di cover yang bisa aku tebak dia adalah Kenzo yang lagi dingin-dinginan di Paris.

Postcard yang aku dapetin adalah postcard idaman aku. Aku inget banget ngelove foto itu di instagram Alex. Dan aku baru sadar kalau bagian belakang postcardnya punya warna yang berbeda dengan postcard satunya. Satu biru, dan satunya hijau.

Aku dapet nomor buku 650, which is aku adalah satu dari seribu orang yang beruntung. Buku yang aku terima bertanda tangan emas, walau nggak dapet stempel ala-ala Hogwarts itu hehe. Sayangnya, aku juga ga dapet golden ticket buat liburan bareng Alex ke ‘Somewhere Only We Know’.

  • Sudut pandang dan penulisan

Aku selalu sukaaaaa dengan novel yang menggunakan sudut pandang ‘aku’. Ketika aku baca ‘Somewhere Only We Know’, aku bisa jadi diri Ririn dan Kenzo dalam waktu yang sama. Dan aku sukaaaa banget kalau si ‘aku’ adalah cowok yang diceritakan oleh penulis cowok. Jadi kayak semacam manual book tentang cowok, cewek (re : aku) jadi bisa ngertiin apa isi kepala cowok lewat penulisnya yang juga merupakan cowok. Kan kalau cewek yang nulis tapi jadi cowok, kebanyak jatohnya sok tahu hehehehe. Tapi, hebatnya Alex adalah dia bisa menjelma menjadi sosok cowok beneran dan cewek tulen yang gede gengsi macam Ririn.

Ada satu hal yang ngingetin aku ke sosok temen kuliah kalau baca Arik lagi ngomong. Dia mau di-‘aku, aing, gue’-in tetep aja balesnya ‘saya’. Jadi selama baca ini di kepala aku kebayangnya Arik itu temen kuliah aku itu. Hai, kamu! Hehehe

  • Pelangi penuh warna vs pelangi monokrom

Ketika bergantian membaca setiap chapter, aku selalu berganti emosi. Ketika baca chapter Ririn, aku bisa senyum mesem-mesem nggak jelas. Dan ketika aku baca chapter Kenzo, perasaan aku langsung muram dan selalu penasaran dengan apa yang bakal Kenzo ceritain. Jadi, novel ini adalah suguhan yang lengkap. Emosi pembacanya bisa berubah secepat chapter itu berlalu.

  • Ririn dan Kenzo

100 persen aku iri dengan hubungan kakak adik ala Ririn dan Kenzo. Aku punya adik cowok, dan aku nggak bisa sedeket itu sama dia. Mungkin hubungan Ririn dan Kenzo bisa aku samakan dengan hubungan aku dan kakak cewek aku. Yang bisa aku ambil dari hubungan keduanya adalah, sekampret apapun saudara kita, tapi mereka adalah pundak yang pasti selalu ada untuk kita sandarkan sambil nangis meraung-raung atau diam tanpa kata.

Kalau disuruh milih cerita cinta siapa yang paling aku suka, jawabannya adalah Kenzo-Hava! Hello there, I’m #teamkenzo. Kalau disuruh kasih alasannya, aku bakal jawab gini; cerita cinta Ririn-Arik itu indah bangeeet, sweet bangeeet, but too good to be true. Sedangkan cerita Kenzo-Hava itu, nagih. Nagih sakitnya. Hahaha. Berarti aku sama Kenzo itu sebelas dua belas kali ya kalau ngomongin nagih ke sakit hati.

  • Score!

Sebelumnya di video reaksi pembukaan buku aku kasih 8/10 untuk cover dan bonus postcardnya. Untuk ceritanya aku kasih……8,99! Biasanya rate novel kayak gini wajib untuk direkomendasiin ke orang-orang. Hehehe.

And that’s all the review (plus cerita sana-sani)! Sorry for the long post, hehe. Cya! :*

Leave a comment

Filed under Book, Diary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s