Hit The Bottom

Sembilan tahun lalu aku pernah ada di lowest point yang aku kira aku nggak akan pernah ada di situasi seperti itu lagi.Semua yang terjadi setelah kejadian sembilan tahun lalu, entah seberat atau separah apapun, nggak pernah aku anggap sebagai hal yang perlu aku cemaskan berlebihan.

Tapi, setelah mendapat kabar Ayah masuk rumah sakit karena serangan stroke, aku ngerasa dunia jungkir balik. Petir ratusan kali menggelegar pecah di atas kepala.

Ayah.. Satu-satunya tumpuan aku berdiri, yang selama ini selalu terlihat sehat, saat itu terbaring lemah nggak berdaya di kasur rumah sakit.

Aku inget banget ketika turun di rumah sakit dari travel terpagi yang bisa nganterin aku ke Tasik secepetnya, aku berdialog dengan hati. ‘Vita, senyum! Gak boleh nangis. Ayah nggak apa-apa. Oke?’

Ratusan kali mantra itu aku rapal di kepala sampai kaki aku berhenti di depan kamar rawat Ayah. Waktu itu Ayah sedang menatap kosong layar TV ditemani Mamah. Sedetik kemudian pertahanan aku runtuh, aku lari sambil peluk Ayah. Ya, aku ngelanggar janji aku sendiri buat nggak nangis depan Ayah. 

  Ayah yang biasanya sangat mobile saat itu cuman bisa diem di kasur sambil ngomel. Tensi Ayah saat itu sangat tinggi yang memungkinkan Ayah untuk marah besar kapanpun. Ayah saat itu seperti bukan Ayah yang aku kenal. Ayah nggak pernah sekalipun berbicara dengan nada tinggi ke aku, ataupun ke yang lain. Tapi saat itu, Ayah penuh awan kelabu. Segala hal kecil Ayah permasalahkan. Terlebih saat itu Ayah lumpuh di bagian kiri tubuhnya, sehingga Ayah punya alasan tambahan untuk ngomel.

Segala hal negatif berkelibet di kepala aku. Pertanyaan bodoh mulai menggrogoti otak aku. Gimana kalau Ayah gini? Gimana kalau Ayah gitu?

I’m big enough to handle my self, but I can’t imagine my Dad wouldn’t be here, there, or everywhere. No, I just can’t. I need him so bad to hold my hand to face the future.

Aku tahu setelah Ayah keluar dari rumah sakit nanti, segala halnya masih nggak akan mudah untuk keluarga kami. Ayah masih harus melakukan serangkaian terapi untuk kembali 100% seperti dulu.

Seminggu di rawat di rumah sakit, Ayah kembali ke rumah. Aku, teteh dan Adit kembali ke rutinitas masing-masing dengan membawa kelhawatiran akan kondisi Ayah. Beberapa hari setelah Ayah pulang, aku sempet pulang ke Tasik lagi buat nemenin Ayah di rumah.

  Waktu itu Ayah belum bisa jalan, tapi Ayah udah bisa ngerasain kalau Ayah ‘punya’ tangan kiri. Hal kecil itu seperti letupan kebahagiaan buat aku. Nggak apa-apa Yah, hal kecil ini bakal membawa Ayah ke Ayah yang dulu. Yang sabar ya..

Sekarang, kurang dua bulan semenjak Ayah masuk rumah sakit, Ayah udah bisa kembali jalan walau belum selincah dulu. Ayah udah bisa mengoprasikan ponselnya kembali. Ayah udah bisa kumpul sama temen-temen VW-nya lagi. Ayah udah bisa makan bener lagi. Ayah berangsur normal walau Ayah masih belum bisa menggerakan tangan kiri Ayah.

Pernah suatu hari Ayah nekat ngeluarin mobil dari carport. Aku berdiri tegang di teras tanpa bisa komentar apapun. Aku nggak pengen Ayah ngerasa diawasi dan ngebuat Ayah ngerasa nggak mampu. Beliau mengganti gigi, memutar stir mobil dengan tangan kanan. Hingga akhirnya mobil stuck di ujung tembok dan Ayah nggak berkutik. Lalu Ayah turun dari mobil tanpa mau aku bantu, beliau cabut kunci mobilnya dan meninggalkan posisi mobil yang acak kadut menghalangi mobil lain yang sebelumnya udah terparkir di carport. Selamas mas Nugroho, tolong parkirin ulang yaa..

Ayah sayang.. Ayah kesayangan semua orang, tetep kuat dan sabar buat kembali sehat ya. Tetep semangat buat nggak ngerokok dan mengurangi kopi. Ayah sekarang sedang menikmati ‘libur singkat’ yang dikasih Allah dari setumpuk rutinitas Ayah 25 tahun ini.

  Selamat ulang tahun, Ayah.. Selamat hari Ayah. Jangan pernah lupa Yah, kita pernah kuat ketika menghadapi badai sembilan tahun lalu bersama. Maka ini pun bisa kita lalui lagi bersama.

Much kisses and hug, yours..

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s